Rabu, 06 Mei 2015

Creative Thinking (Pertemuan 3)

Jumat, 6 Maret 2015

Pada pertemuan ketiga, pak Dwi memberikan tugas kepada kelompok satu untuk membawakan presentasi mengenai sejarah kreativitas di Indonesia. Sebelumnya saya tidak pernah menelaah awal dari sejarah kreatifitas, bahkan saya sama sekali tidak terpikir akan hal itu. Namun karena adanya presentasi dari kelompok satu, saya menjadi cukup penasaran dan tertarik akan hal itu.

Hal yang saya tangkap dari presentasi tersebut adalah, awal tercipta kreatifitas di Indonesia adalah karena adanya bencana alam yang sering terjadi di geografis Indonesia. Hal tersebut membuat orang Indonesia pada kala itu untuk berpikir menciptakan seseuatu dan menginovasi sesuatu untuk beradaptasi dan bertahan hidup.Bentuk kreativitas Indonesia dapat dilihat dari rancang bangun rumah tradisional, obat-obat tradisional, senjata tradisional, dan budaya-budaya lainnya yang dibentuk oleh masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan alam sekitarnya.

Tanggapan Pak Dwi terhadap presentasi ini adalah kecilnya kontribusi yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam mendukung SDM yang berpotensial. Padahal jika ditelaah Indonesia telah didukung oleh berbagai faktor SDA dan budaya yang sangat kaya dan beraneka ragam, hanya saja kekurangan SDM berkualitas yang seharusnya berperan dalam mengolah SDA tersebut.

Hal ini membuat saya sadar bahwa seberapa kaya SDA dari suatu negara, tidak akan membuat negara itu kaya dan makmur jika tidak ada kontribusi dari SDM negara tersebut.



Steffi Torentika - 915130057

Dosen : Dwi Iswandono, Drs

Creative Thinking (Pertemuan kedua)

Suatu ketika di surga datanglah seseorang kepada Santo Petrus. Orang tersebut meminta kepada Santo Petrus untuk menunjukkan kepadanya seorang jenderal besar di dunia. Santo Petrus kemudian menunjuk kepada bapak yang berdiri di sebelahnya. Orang yang bertanya tadi menjadi bingung. Lantas ia berkata, “Aku meminta kepadamu untuk memperlihatkan kepadaku seorang jenderal besar. Mengapa engkau menunjukkan bapak itu kepadaku? Di bumi ia hanyalah seorang tukang sepatu.”
Lalu Santo Petrus menjawab “Di sini, di surga, ia telah ditakdirkan untuk menjadi seorang jenderal besar. Itu adalah kehendak dan kesalahannya sendiri apabila di bumi ia tidak berhasil menjadi seorang jenderal besar.”Pada cerita tersebut, dapat disimpulkan bawah tukang sepatu tersebut sebenarnya sudah di takdirkan untuk menjadi seorang jendral besar tetapi ia tidak menyadari bahwa dirinya special, begitu pula dengan orang yang tidak menyadari bahwa dirinya creative, dan merasa bahwa dirinya biasa saja. Seperti kata pepatah yang kerap kali terdengar " Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini ", maka dari itu teruslah mencoba hal-hal yang baru, terus mengasah kemampuan dan jangan pernah takut untuk gagal, sebab gagal bukanlah sebuah tamparan melainkan sebuah pembelajaran.




Begitulah pertemuan kedua kami diawali. Dari cerita tersebut pak Dwi juga memberikan pengertian secara garis besar, yaitu : “Semua orang memiliki potensi untuk menjadi kreatif, namun setiap orang mengembangkan dirinya dengan cara yang berbeda-beda. Perbedaan cara mengembangkan diri itulah yang pada akhirnya menentukan apakah orang tersebut akan berhasil atau tidak.”

Dalam era bisnis saat ini yang semakin berkembang, tentunya akan banyak persaingan bisnis yang ketat pula, oleh karena itu bisinis kreatif sangat diperlukan mengingat hal kreatif tidak akan pernah mati, bahkan penghasilan yang diterima pun dapat menjanjikan.